BERITA
You are here : Home Artikel Mengenal Sosok Mohammad Hatta Bapak Koperasi Indonesia

Mengenal Sosok Mohammad Hatta Bapak Koperasi Indonesia

29 September 2022 893 kali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com - Indonesia memiliki banyak pahlawan nasional, salah satu yang paling tersohor adalah Mohammad Hatta. Untuk lebih mengenal siapa itu Mohammad Hatta, marilak kita simak penjelasan di bawah ini! Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 dengan nama asli Mohammad Athar. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang sering disandingkan dengan Ir. Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal aktif dalam organisasi, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, wakil presiden pertama Republik Indonesia.

 

Awal karier di bidang politik

Kiprah Bung Hatta di bidang politik dimulai saat terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat karena Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921, Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, yaitu Indische Vereeniging. Pada awalnya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar. Selanjutnya, organisasi tersebut berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij, yaitu Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Cipto Mangunkusumo bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Di perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karier dalam bidang politik sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan. Pada pidatonya, beliau mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan nonkooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Bierville, Prancis, pada tahun 1926. Beliau mulai memperkenalkan nama Indonesia pada kalangan organisasi-organisasi internasional.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitas politik Hatta pada saat organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat. Hatta akhirnya dibebaskan setelah berpidato dengan pidato pembelaan berjudul Indonesia Free. Tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.

 


Diasingkan ke Papua

Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras dari Hatta. Beliau mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta tersebut, pemerintah Kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap para pimpinan partai untuk diungsikan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Beliau juga rajin membaca buku yang dibawanya dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Pada tahun 1935 saat pemerintahan Kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindah lokasikan ke Banda Neira. Di sana Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah. Politik, dan lainnya. Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah Kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Saat itu Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Awal Agustus 1945, BPUPKI berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan Soekarno sebagai dan Hatta sebagai wakil ketua. Adapun, pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 tepatnya pukul 10.00 WIB, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.

 


Bapak Koperasi Indonesia

Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Beliau juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita citakannya.

Pada tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di Radio mengenai hari jadi koperasi. Lima hari setelahnya, Hatta diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan ekonomi, disertai tekad untuk menolong rakyat yang menderita, beliau selalu menganjurkan agar masyarakat menjadi anggota koperasi. Bung Hatta menginginkan agar koperasi menjadi wadah ekonomi yang dapat menolong masyarakat dari kemiskinan dan keterbelakangan. Banyak sekali jasa Bung Hatta dalam perkembangan koperasi di Indonesia. Hal ini jelas dari gagasan Bung Hatta agar kekuatan-kekuatan ekonomi ada ditangan rakyat. Agar kekuatan ekonomi dikuasai oleh rakyat banyak bukan oleh perusahaan. Untuk itu, Hatta bersama tokoh lainnya ikut aktif merintis Dewan Koperasi Indonesia (DKI), Gerakan Koperasi Indonesia (GKI), dan Kesatuan Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI). Konsep pemikiran Bung Hatta banyak diterima pada kongres koperasi 1 di Tasikmalaya dan Kongres Koperasi II. Beliau juga memberi gagasan pendirian Sekolah Menengah Ekonomi Jurusan Koperasi dan bahkan pendidikan tinggi koperasi.